
Paket A, B, dan C
Layanan pendidikan kesetaraan setara SD, SMP, dan SMA (IPA & IPS) yang dikelola secara mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Pelajari Program →
Lembaga pendidikan berbasis pesantren di Kabupaten Serang, Banten — mengintegrasikan kurikulum pesantren dan pendidikan nasional untuk mencetak kader muslim yang mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Lihat program pendidikan kamiWorkshop kepenulisan dan kewartawanan bagi para santri semakin relevan di tengah arus informasi digital yang terus mengalir setiap hari. Kemampuan merangkai kata, menyusun berita, dan menyajikan tulisan yang menarik menjadi bekal penting yang harus dimiliki generasi muda, termasuk mereka yang tengah menempuh pendidikan di lingkungan pondok pesantren.
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 yang berada di Serang, Banten, menyadari betul bahwa kemampuan literasi dan jurnalistik tidak hanya berguna bagi mereka yang bercita-cita menjadi penulis profesional. Di era media sosial dan portal berita daring, keterampilan menulis menjadi modal sosial yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari menyebarkan informasi kegiatan pesantren hingga membangun citra positif di mata masyarakat luas.
Melihat kebutuhan tersebut, pihak pesantren melalui unit kegiatan tertentu menyelenggarakan Workshop Menulis Artikel dan Jurnalistik Santri sebagai bagian dari program pengembangan diri peserta didik. Kegiatan ini ditujukan untuk membuka wawasan, melatih teknik menulis, sekaligus memperkenalkan etika serta prinsip-prinsip dasar dunia kewartawanan kepada para generasi muda pesantren.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh semangat sejak pagi hingga sore hari. Para peserta tidak hanya duduk menyimak paparan, tetapi juga diajak praktik langsung menulis berita, menyusun lead, hingga mempublikasikan hasil karyanya. Dengan cara ini, ilmu yang diterima tidak sekadar berhenti sebagai teori, melainkan terasa aplikatif dan membekas di benak setiap peserta yang hadir.
Latar belakang utama digelarnya workshop ini berangkat dari keprihatinan banyak pihak terhadap rendahnya minat baca dan tulis di kalangan pelajar, termasuk di lingkungan pesantren. Banyak santri yang mampu membaca Al-Qur'an dengan baik, tetapi masih kurang terampil ketika harus menuangkan ide dan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan berbahasa Indonesia yang baku dan mudah dipahami.
Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan bersama yang perlu dijawab melalui pendekatan edukatif. Alih-alih menunggu keluhan tanpa solusi, pihak pesantren memilih untuk proaktif mengadakan workshop sebagai sarana transfer keterampilan menulis yang terstruktur. Tujuannya adalah agar para santri memiliki bekal teknis ketika harus membuat laporan, artikel, maupun berita sederhana terkait kegiatan pesantren.
Faktor lain yang turut melatarbelakangi adalah perkembangan dunia digital yang begitu pesat. Saat ini siapa pun dapat membuat konten dan menyebarkannya ke publik melalui berbagai kanal. Tanpa bekal keterampilan menulis yang memadai, potensi munculnya kesalahan informasi, berita bohong, atau tulisan yang tidak layak baca menjadi sangat tinggi. Karena itu, literasi jurnalistik perlu ditanamkan sejak dini kepada para generasi muda pesantren.
Kebutuhan akan keterampilan menulis yang mumpuni juga dirasakan dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika pesantren perlu mempublikasikan kegiatannya. Sebagai contoh, Jambore Internet yang diikuti oleh berbagai pesantren se-Banten dapat menjadi referensi untuk kemudian dipelajari bagaimana sebuah laporan kegiatan disusun secara runtut, informatif, dan menarik untuk dibaca.
Materi pertama yang disampaikan adalah dasar-dasar kepenulisan artikel. Para peserta dikenalkan pada struktur artikel yang baik, mulai dari judul yang menarik, lead yang menggugah, isi yang berbobot, hingga penutup yang meninggalkan kesan. Narasumber menekankan pentingnya menentukan tujuan tulisan sebelum mulai mengetik, agar setiap kalimat yang lahir memiliki arah dan makna yang jelas.
Materi berikutnya adalah teknik menulis berita atau reportase. Pada sesi ini, para peserta belajar bagaimana menemukan sudut pandang berita, melakukan wawancara sederhana, serta menyusun lead dengan rumus 5W+1H. Latihan kecil dilakukan secara berpasangan, di mana satu orang berperan sebagai pewawancara dan yang lainnya sebagai narasumber, kemudian hasil wawancara tersebut dituangkan ke dalam bentuk tulisan singkat.
Tidak ketinggalan, materi tentang etika jurnalistik juga mendapat perhatian serius. Santri dikenalkan pada prinsip keberimbangan, akurasi, dan independensi dalam menyampaikan informasi. Diskusi ringan berlangsung saat narasumber mencontohkan beberapa kasus pelanggaran etika jurnalistik yang pernah viral di media sosial, sehingga para peserta memahami konsekuensi dari tulisan yang tidak bertanggung jawab.
Sesi terakhir adalah praktik menulis langsung di depan laptop atau buku catatan. Setiap peserta diminta membuat artikel pendek bertema kegiatan pesantren, kemudian dibacakan di depan teman-teman untuk mendapat tanggapan konstruktif. Pendekatan ini membuat para peserta merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang jurnalis yang harus mampu menulis di bawah tenggat waktu tertentu.
Metode ceramah tetap digunakan pada awal sesi untuk memberikan kerangka teori yang utuh. Namun, porsi ceramah sengaja dibatasi agar tidak membuat peserta bosan. Setelah paparan singkat, langsung diselingi dengan sesi tanya jawab interaktif agar peserta berani mengemukakan pendapat dan kesulitan yang selama ini mereka hadapi ketika harus menulis.
Metode kedua yang menjadi tulang punggung pelatihan adalah praktik menulis langsung. Setiap modul materi selalu diakhiri dengan latihan, baik secara individu maupun berkelompok. Dengan cara ini, mereka yang baru pertama kali menulis artikel tidak merasa canggung karena langsung mendapat bimbingan dari fasilitator. Hasil tulisan yang telah dibuat kemudian dikumpulkan untuk dinilai dan diberikan umpan balik tertulis oleh panitia.
Diskusi kelompok juga menjadi metode yang efektif dalam workshop ini. Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu diminta mendiskusikan kasus-kasus jurnalistik dan menentukan bagaimana seharusnya berita tersebut ditulis. Cara ini melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus kemampuan berargumentasi secara santun, yang merupakan bagian penting dari budaya intelektual pesantren.
Penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi juga diterapkan secara optimal. Beberapa materi dibagikan melalui dokumen yang dapat diunduh oleh peserta, sementara referensi tambahan tentang teknik menulis modern disajikan melalui tautan daring. Sebagai gambaran, prinsip tentang desain pembelajaran dapat menjadi rujukan bagaimana sebuah metode pelatihan dirancang agar menghasilkan output yang optimal bagi setiap peserta.
Narasumber utama dalam workshop ini adalah seorang praktisi media yang telah berpengalaman lebih dari satu dekade di bidang jurnalistik dan kepenulisan. Kehadirannya membawa warna baru karena gaya penyampaiannya yang santai, penuh humor, namun tetap sarat dengan ilmu yang bermanfaat. Banyak peserta yang merasa nyaman bertanya karena narasumber tidak pernah memojokkan pertanyaan sekecil apa pun dari peserta.
Selain narasumber utama, turut hadir pula fasilitator yang merupakan alumni pesantren yang kini aktif di dunia redaksi media daring. Keberadaan alumni tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi para peserta, karena mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana keterampilan menulis yang dipelajari di pesantren bisa mengantarkan seseorang ke dunia profesional yang lebih luas.
Panitia juga mengundang seorang guru bahasa Indonesia dari lingkungan pesantren untuk mendampingi jalannya pelatihan. Peran guru tersebut sangat strategis, yaitu memastikan bahwa kaidah kebahasaan yang digunakan para peserta sudah sesuai dengan ejaan dan tata bahasa yang berlaku. Dengan begitu, output yang dihasilkan tidak hanya menarik dari segi gaya, tetapi juga benar secara kaidah bahasa.
Kerja sama antara ketiga unsur tersebut yaitu narasumber tamu, alumni, dan guru internal pesantren, menciptakan suasana belajar yang kaya dan multidimensi. Sinergi ini membuktikan bahwa proses pendidikan di pesantren terbuka terhadap berbagai perspektif dan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang selama ini dijunjung tinggi.
Sejak pagi hari, ruang workshop sudah dipenuhi oleh para peserta yang datang dengan penuh semangat. Sebagian besar dari mereka adalah anggota tim redaksi buletin pesantren, sementara sebagian lainnya adalah peserta umum yang tertarik untuk mengembangkan keterampilan menulisnya. Keberagaman latar belakang peserta justru membuat diskusi berjalan lebih hidup karena muncul banyak sudut pandang yang dipertukarkan.
Antusiasme peserta terlihat dari bagaimana mereka aktif bertanya, mencatat, dan berani mempresentasikan hasil tulisannya di depan teman-teman. Meskipun ada beberapa peserta yang masih terlihat gugup ketika diminta membaca artikelnya, suasana kekeluargaan membuat mereka merasa aman untuk mencoba hal baru. Tepuk tangan dan dukungan moral dari peserta lain menjadi pemantik semangat bagi mereka yang semula kurang percaya diri.
Beberapa peserta bahkan datang dengan membawa contoh tulisan yang pernah mereka buat sebelumnya. Tulisan-tulisan tersebut kemudian ditelaah bersama oleh narasumber dan peserta lain, sehingga proses belajar terasa lebih personal dan menyentuh pengalaman nyata. Cara ini terbukti membuat peserta merasa dihargai karena karya mereka tidak diabaikan, melainkan dijadikan bahan diskusi yang konstruktif.
Suasana kebersamaan terasa semakin kuat ketika waktu istirahat tiba. Para peserta berbincang santai sambil menikmati hidangan yang disiapkan oleh panitia, saling bertukar cerita tentang pengalaman menulis dan cita-cita yang ingin dicapai. Momen seperti inilah yang sering kali menjadi awal dari terbentuknya komunitas penulis muda di lingkungan pesantren.
Dampak pertama yang langsung terasa adalah meningkatnya kepercayaan diri para peserta dalam menulis. Sebelum mengikuti workshop, banyak dari mereka yang merasa ragu untuk menulis karena takut salah ejaan atau struktur kalimat yang kacau. Setelah mendapat bimbingan, mereka mulai berani menuangkan ide ke dalam tulisan tanpa terlalu khawatir terhadap kesalahan kecil, karena mereka memahami bahwa proses menulis memang membutuhkan latihan berulang.
Dampak kedua adalah tumbuhnya kebiasaan membaca di kalangan peserta. Untuk bisa menulis dengan baik, seseorang perlu banyak membaca. Setelah workshop, beberapa peserta dilaporkan rajin membaca berita dari portal daring, buku-buku fiksi, hingga tulisan ringan di media sosial untuk memperkaya kosakata dan gaya bahasa. Kebiasaan membaca ini lambat laun akan membentuk pola pikir analitis yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak ketiga adalah terciptanya jejaring komunikasi antarpeserta yang sebelumnya tidak saling akrab. Melalui diskusi kelompok dan presentasi bersama, mereka yang datang dari latar belakang berbeda menjadi saling mengenal dan membangun solidaritas baru. Jejaring seperti ini berharga karena dapat menjadi modal kolaborasi di masa depan, baik dalam bidang jurnalistik maupun dalam pengembangan diri secara umum.
Terakhir, dampak positif yang tak kalah penting adalah terbukanya pengalaman tentang dunia media dan jurnalistik yang lebih luas. Para peserta memahami bahwa menulis merupakan bentuk tanggung jawab sosial. Tulisan yang baik akan memberikan dampak positif bagi pembacanya, sementara tulisan yang asal-asalan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Kesadaran etis seperti ini menjadi bekal berharga bagi para peserta dalam berkarya ke depan.
Workshop ini bukan titik akhir, melainkan langkah awal dari sebuah proses panjang. Agar manfaatnya benar-benar terasa dan berkelanjutan, pihak pesantren perlu merancang sejumlah tindak lanjut yang matang. Untuk memperkaya referensi, para alumni workshop juga dapat mempelajari lebih jauh tentang variasi gaya penulisan melalui contoh tulisan daring yang banyak dipublikasikan di berbagai media digital saat ini. Berikut beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan untuk kegiatan serupa di masa mendatang.
Siapkan berkas pendaftaran dan raih kesempatan mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren yang berakhlak, berilmu, dan berdaya saing. Konsultasi pendaftaran dapat dilakukan melalui WhatsApp dan email resmi.
Tiga pilar pendidikan yang membentuk karakter, keterampilan, dan kemandirian santri.

Layanan pendidikan kesetaraan setara SD, SMP, dan SMA (IPA & IPS) yang dikelola secara mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Pelajari Program →
SMK berbasis pesantren yang berdiri sejak 18 Juli 2005, dengan fokus bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi serta sistem pembelajaran ganda.
Tentang SMK →
Jenjang SMP yang menggunakan kurikulum TMI gabungan antara kurikulum pesantren dan Kementerian Pendidikan.
Info SMP →Update kegiatan, kunjungan, dan artikel dari lingkungan pesantren.

18 September 2013
Kunjungan dosen Al-Azhar untuk peningkatan bahasa Arab para santri.
Baca selengkapnya →
Juli 2023
Pedoman kegiatan akademik pesantren untuk tahun pelajaran terbaru.
Baca selengkapnya →
2013
Pelaksanaan BRO (Banten Robotik Olimpiade) dan XENI AND JOTI sebagai bagian dari pengembangan bakat santri.
Lihat galeri →
2012
Standar mutu manajemen diterapkan dalam kegiatan pesantren sejak 2012.
Profil pesantren →