
Paket A, B, dan C
Layanan pendidikan kesetaraan setara SD, SMP, dan SMA (IPA & IPS) yang dikelola secara mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Pelajari Program →
Lembaga pendidikan berbasis pesantren di Kabupaten Serang, Banten — mengintegrasikan kurikulum pesantren dan pendidikan nasional untuk mencetak kader muslim yang mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Lihat program pendidikan kamiPondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 di Serang, Banten, terus mengembangkan pendidikan yang memadukan penguatan keislaman, pembentukan karakter, kecakapan akademik, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman. Lingkungan pesantren menjadi ruang bagi santri untuk belajar mengatur waktu, menghormati sesama, berlatih mandiri, serta menemukan potensi yang dapat dikembangkan secara bertahap.
Dalam wawancara eksklusif ini, pimpinan pondok menyampaikan pandangan mengenai arah pendidikan pesantren, proses penerimaan santri baru, pembinaan kedisiplinan, dan peran kegiatan ekstrakurikuler. Percakapan juga menyoroti hubungan antara pondok, keluarga, dan masyarakat dalam mendampingi pertumbuhan peserta didik.
Bagi calon santri dan orang tua, informasi mengenai program pendidikan, pengumuman, hasil ujian masuk, serta kegiatan harian menjadi hal penting sebelum mengambil keputusan. Melalui penjelasan pimpinan, pembaca dapat melihat nilai-nilai yang menjadi dasar pengelolaan Nurul Ilmi Darunnajah 14 sekaligus memahami pengalaman belajar yang ditawarkan.
Tanya: Apa visi utama Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 dalam menyelenggarakan pendidikan?
Jawab: Visi kami adalah membentuk santri yang memiliki dasar keislaman kuat, wawasan luas, akhlak baik, dan kemampuan untuk berperan di tengah masyarakat. Pendidikan di pesantren tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran. Santri juga diarahkan untuk memahami tanggung jawab, menjaga adab, serta membangun kebiasaan yang mendukung kehidupan yang tertib dan bermanfaat.
Pimpinan pondok menjelaskan bahwa visi tersebut diterapkan melalui keseimbangan antara pembelajaran di kelas, kegiatan ibadah, pembiasaan hidup bersama, dan pengembangan minat. Setiap unsur memiliki fungsi yang saling melengkapi. Pelajaran memberikan pengetahuan, kegiatan keagamaan memperkuat kesadaran batin, sedangkan kehidupan asrama melatih ketahanan mental dan kemampuan bekerja sama.
Menurut beliau, pendidikan pesantren harus mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri. Teknologi, perubahan sosial, dan perkembangan dunia kerja perlu dipahami oleh santri, tetapi semuanya harus ditempatkan dalam kerangka akhlak serta tanggung jawab. Karena itu, modernisasi dipandang sebagai sarana untuk memperluas manfaat pendidikan, bukan alasan untuk menghapus tradisi yang baik.
Tanya: Bagaimana rutinitas harian membantu membentuk karakter santri?
Jawab: Kehidupan pesantren mengajarkan santri untuk menjalani jadwal secara konsisten. Waktu untuk ibadah, belajar, istirahat, kebersihan, dan kegiatan bersama diatur agar santri mengenal prioritas. Kebiasaan sederhana seperti datang tepat waktu, merapikan tempat tidur, menjaga kebersihan kamar, dan mengikuti kegiatan dengan tertib menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
Pimpinan pondok menekankan bahwa kedisiplinan tidak seharusnya dipahami sebagai tekanan semata. Disiplin perlu diperkenalkan sebagai cara untuk menghargai waktu dan mengelola amanah. Santri dibimbing agar memahami alasan di balik aturan, kemudian belajar menjalankannya dengan kesadaran. Ketika terjadi pelanggaran, pendekatan pembinaan diutamakan agar santri mampu mengevaluasi sikap dan memperbaikinya.
Kehidupan bersama juga melatih kepedulian. Santri berasal dari latar belakang keluarga dan daerah yang beragam, sehingga mereka perlu belajar berkomunikasi, menyelesaikan perbedaan, serta membantu teman. Interaksi sehari-hari semacam ini menjadi pengalaman sosial yang penting karena membentuk kemampuan beradaptasi dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pimpinan menyebutkan bahwa keberhasilan pembinaan tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Perubahan karakter sering tumbuh melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Oleh sebab itu, pengasuh, guru, dan pembina asrama berusaha memberikan contoh yang konsisten agar nilai-nilai yang disampaikan dapat dirasakan langsung oleh santri.
Tanya: Bagaimana pondok menjaga keseimbangan antara ilmu agama dan pelajaran umum?
Jawab: Pendidikan agama menjadi fondasi, sementara pelajaran umum membantu santri memahami dunia yang lebih luas. Keduanya tidak dipisahkan secara kaku. Santri perlu memiliki kemampuan membaca, berhitung, berpikir kritis, berkomunikasi, dan menggunakan teknologi, sekaligus memahami nilai keislaman yang menjadi pedoman dalam menggunakan kemampuan tersebut.
Dalam proses belajar, guru didorong untuk menghubungkan materi dengan kehidupan nyata. Pelajaran sains, misalnya, dapat dikaitkan dengan rasa syukur terhadap keteraturan ciptaan Allah dan tanggung jawab menjaga lingkungan. Materi kimia mengenai hukum kekekalan massa dapat menjadi contoh bagaimana konsep ilmiah dipelajari melalui pengamatan, percobaan, dan penalaran yang teratur.
Pimpinan pondok menilai bahwa santri perlu diberi ruang untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Kelas yang baik bukan hanya tempat menerima informasi, melainkan tempat melatih ketelitian, keberanian, dan kemampuan menguji suatu gagasan. Guru tetap menjadi pembimbing utama, sementara santri diarahkan untuk aktif mencari penjelasan dari sumber yang dapat dipercaya.
Penguatan literasi juga menjadi perhatian. Santri perlu dibiasakan membaca berbagai jenis bahan, memahami isi informasi, dan membedakan pengetahuan yang benar dari kabar yang tidak jelas. Kemampuan tersebut sangat berguna ketika mereka melanjutkan pendidikan, mengikuti ujian, mengakses informasi digital, ataupun berkontribusi dalam kegiatan sosial.
Tanya: Apa yang perlu dipersiapkan calon santri dan orang tua sebelum mendaftar?
Jawab: Persiapan paling awal adalah kesediaan untuk memahami kehidupan pesantren secara menyeluruh. Calon santri perlu mengetahui bahwa belajar di pondok berarti tinggal dalam lingkungan yang memiliki aturan, jadwal, dan tanggung jawab bersama. Orang tua juga perlu berdiskusi dengan anak mengenai alasan memilih pesantren, harapan pendidikan, serta kesiapan mengikuti pembinaan.
Informasi mengenai pendaftaran, persyaratan, jadwal seleksi, pengumuman, dan hasil ujian masuk sebaiknya diperoleh dari sumber resmi. Calon peserta didik dapat mengunjungi portal resmi pesantren untuk mengikuti pembaruan informasi yang tersedia. Ketelitian dalam membaca jadwal dan melengkapi dokumen akan membantu proses pendaftaran berjalan lebih tertib.
Pimpinan pondok menegaskan bahwa ujian masuk bukan sekadar alat untuk menilai kemampuan akademik. Proses tersebut juga membantu lembaga memahami kesiapan calon santri dan memberikan gambaran awal mengenai kebutuhan pembinaan. Hasil seleksi perlu diterima sebagai bagian dari proses pendidikan, baik bagi peserta yang dinyatakan lulus maupun yang masih membutuhkan persiapan lebih lanjut.
Keluarga memiliki peran besar setelah santri diterima. Dukungan emosional, komunikasi yang sehat, dan kepercayaan kepada proses pembinaan akan membantu santri beradaptasi. Orang tua juga diharapkan mengikuti informasi dari pondok, menjaga komunikasi dengan pengasuh, serta menyampaikan hal penting mengenai kondisi anak secara terbuka dan bijaksana.
Kegiatan di luar kelas memberi kesempatan kepada santri untuk mengembangkan minat dan menemukan kekuatan pribadi. Program seperti kegiatan kepemimpinan, olahraga, seni, literasi digital, dan jambore internet dapat menjadi sarana untuk melatih kreativitas serta kerja sama. Setiap aktivitas dirancang agar santri belajar mengambil peran dan menyelesaikan tugas bersama.
Pimpinan pondok menjelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler tidak ditujukan untuk mengejar prestasi semata. Proses latihan, kedisiplinan mengikuti jadwal, keberanian tampil, dan kemampuan menerima evaluasi merupakan bagian penting dari pengalaman tersebut. Santri yang mengikuti kegiatan secara konsisten akan belajar bahwa hasil yang baik membutuhkan persiapan dan ketekunan.
Jambore internet, misalnya, dapat memperkenalkan santri pada pemanfaatan teknologi secara produktif. Mereka dapat belajar mengenai komunikasi digital, keamanan informasi, pencarian sumber, serta penyampaian gagasan melalui media. Pengetahuan ini perlu disertai etika agar teknologi digunakan untuk belajar dan berkarya, bukan untuk menyebarkan informasi yang merugikan.
Pondok juga berupaya memberi ruang bagi santri dengan minat yang berbeda. Ada santri yang menonjol dalam bidang akademik, ada yang memiliki bakat olahraga, seni, organisasi, atau keterampilan teknis. Keragaman tersebut dipandang sebagai potensi yang perlu diarahkan melalui pendampingan, sehingga setiap santri dapat berkembang tanpa merasa harus mengikuti ukuran keberhasilan yang sama.
Kepemimpinan di pesantren diajarkan melalui pengalaman sehari-hari. Santri dapat diberi tanggung jawab mengelola kegiatan, membantu menjaga ketertiban, mengatur kelompok belajar, atau menjadi bagian dari kepanitiaan. Dari pengalaman tersebut, mereka belajar membuat keputusan, membagi tugas, mendengar masukan, dan mempertanggungjawabkan hasil kerja.
Menurut pimpinan pondok, pemimpin yang baik bukan orang yang selalu berada di depan, melainkan orang yang mampu melayani, memberi teladan, dan menjaga kepercayaan. Karena itu, pembinaan kepemimpinan harus berjalan bersama pembentukan akhlak. Kemampuan berbicara perlu diimbangi dengan kemampuan mendengar, sedangkan keberanian mengambil keputusan harus disertai kesediaan menerima konsekuensi.
Santri juga diajak memahami bahwa kepemimpinan dapat dimulai dari diri sendiri. Mengatur waktu belajar, menyelesaikan kewajiban, menjaga kebersihan, dan menepati janji merupakan latihan kepemimpinan yang sederhana. Kebiasaan tersebut akan menjadi modal ketika santri berhadapan dengan tanggung jawab yang lebih besar di sekolah lanjutan, perguruan tinggi, organisasi, dan masyarakat.
Pimpinan berharap para alumni kelak membawa pengalaman pesantren dalam bentuk kontribusi yang nyata. Mereka dapat berperan sebagai pendidik, profesional, wirausahawan, aktivis sosial, atau anggota masyarakat yang menjaga nilai kejujuran. Jalur pengabdian boleh berbeda, tetapi dasar sikapnya tetap sama: berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.
Pimpinan pondok menyampaikan beberapa nilai yang perlu dijaga oleh seluruh keluarga besar pesantren. Nilai tersebut menjadi pengingat agar proses pendidikan berjalan selaras antara target akademik, pembinaan kepribadian, dan hubungan sosial.
Pegangan bagi santri:
Orang tua juga memiliki posisi penting dalam keberhasilan pendidikan di pesantren. Dukungan keluarga akan terasa lebih kuat apabila disampaikan melalui komunikasi yang teratur dan kepercayaan terhadap proses yang sedang dijalani anak.
Dukungan keluarga yang dibutuhkan:
Menutup percakapan, pimpinan pondok menegaskan bahwa pendidikan adalah kerja bersama. Pesantren menyediakan lingkungan, guru memberikan bimbingan, dan keluarga menguatkan dari rumah. Santri sendiri perlu menjalani proses dengan kesungguhan. Dengan kerja sama tersebut, Nurul Ilmi Darunnajah 14 diharapkan terus menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki dasar agama, wawasan luas, kemandirian, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Siapkan berkas pendaftaran dan raih kesempatan mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren yang berakhlak, berilmu, dan berdaya saing. Konsultasi pendaftaran dapat dilakukan melalui WhatsApp dan email resmi.
Tiga pilar pendidikan yang membentuk karakter, keterampilan, dan kemandirian santri.

Layanan pendidikan kesetaraan setara SD, SMP, dan SMA (IPA & IPS) yang dikelola secara mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Pelajari Program →
SMK berbasis pesantren yang berdiri sejak 18 Juli 2005, dengan fokus bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi serta sistem pembelajaran ganda.
Tentang SMK →
Jenjang SMP yang menggunakan kurikulum TMI gabungan antara kurikulum pesantren dan Kementerian Pendidikan.
Info SMP →Update kegiatan, kunjungan, dan artikel dari lingkungan pesantren.

18 September 2013
Kunjungan dosen Al-Azhar untuk peningkatan bahasa Arab para santri.
Baca selengkapnya →
Juli 2023
Pedoman kegiatan akademik pesantren untuk tahun pelajaran terbaru.
Baca selengkapnya →
2013
Pelaksanaan BRO (Banten Robotik Olimpiade) dan XENI AND JOTI sebagai bagian dari pengembangan bakat santri.
Lihat galeri →
2012
Standar mutu manajemen diterapkan dalam kegiatan pesantren sejak 2012.
Profil pesantren →